Hikayat Sang Kancil: Mengenal Ciri Bahasa Klasik dalam Cerita Rakyat
Hikayat Sang Kancil dan Mergastua Hutan Seribu
Genre: Cerita Rakyat/Hikayat — Oleh: Pintar Bahasa
Sebermula, alkisah di sebuah rimba raya yang bernama Hutan Seribu, hiduplah pelbagai kaum mergastua. Hutan itu masyhur dengan kesuburannya, namun sejak beberapa purnama terakhir, kekeringan melanda tiada tara. Mata air mengering, dan rumput pun kian layu. Segala hewan, dari yang kecil hingga yang besar, merasa resah dan bertelingkah sesama sendiri.
Mufakat Sang Kancil
Hatta, Sang Kancil, yang cerdik pandai lagi arif budiman, tiada tega melihat teman-temannya menderita. Ia pun berikhtiar mencari jalan keluar. Maka, dipanggilnya segala ketua kaum hewan untuk bermufakat. Dari seekor gajah besar, seekor singa perkasa, hingga seekor kura-kura tua, semua hadir di bawah pohon beringin.
"Wahai sahabat-sahabatku," seru Sang Kancil dengan suara yang lembut namun tegas. "Kekeringan ini tiada lain adalah teguran dari Sang Pencipta bagi kita untuk tidak tamak. Kita harus bekerja sama mencari sumber air yang hilang, bukan saling bermusuhan."
Setelah sekian lama berunding, akhirnya mereka bersetuju untuk mengutus Sang Gajah yang kuat untuk memimpin tim pencari air. Dalam perjalanan, mereka dibantu oleh Sang Elang yang tajam matanya. Berkat petunjuk Sang Kancil dan kecekatan Sang Elang, mereka berhasil menemukan sebuah gua tersembunyi dengan mata air yang jernih, yang selama ini tertutup oleh batu besar.
📜 Ciri Kebahasaan Hikayat
- Kata Arkais: Menggunakan kata-kata kuno (sebermula, alkisah, hatta, mergastua).
- Pramodern: Cerita seringkali terjadi di lingkungan istana atau dunia gaib.
- Anonim: Pengarangnya tidak diketahui.
- Didaktis: Mengandung pesan moral yang kuat.

Posting Komentar untuk "Hikayat Sang Kancil: Mengenal Ciri Bahasa Klasik dalam Cerita Rakyat"